
UNDIP, Semarang (13/05) – Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM) Universitas Diponegoro menyelenggarakan Pelatihan Produksi Video untuk Konten Media Sosial Official bagi Koordinator Komunikasi Publik Fakultas, Sekolah, Unit Kerja. Kegiatan yang berkolaborasi dengan tim Direktorat Jejaring Media, Komunitas dan Komunikasi Publik (Jejak) ini berlangsung Selasa, 12 Mei 2026 menghadirkan profesional di bidang produksi video medsos.
Pelatihan ini menjadi langkah UNDIP memperkuat kapasitas pengelola komunikasi publik di lingkungan universitas. Di tengah perubahan pola konsumsi informasi yang semakin cepat, konten video tidak lagi hanya dipandang sebagai dokumentasi kegiatan, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan nilai, capaian, inovasi, dan dampak UNDIP kepada masyarakat luas.
Wakil Rektor III Bidang Sumber Daya Manusia, Teknologi Informasi, Hukum, dan Organisasi UNDIP, Prof. Dr. Adian Fatchur Rochim, S.T., M.T., dalam sambutannya menuturkan konten kelembagaan perlu lebih menonjolkan substansi dan nilai manfaat bagi publik. “Masyarakat tidak hanya membutuhkan dokumentasi seremonial visual, tetapi informasi yang menjelaskan capaian riset, luaran publikasi, serta kontribusi nyata dari setiap kegiatan yang dilakukan universitas,” ujarnya.

Prof. Adian menggarisbawahi setiap konten baik berupa berita, video, maupun unggahan media sosial seharusnya mampu menjawab aspek manfaat, hasil, dan dampak bagi audiens. “Dengan pengelolaan yang tepat, konten digital UNDIP berpotensi menjadi rujukan yang memperkuat reputasi institusi sekaligus mendorong lahirnya gagasan yang lebih luas. Oleh karena itu, pengelola komunikasi publik didorong untuk mampu mengemas aktivitas akademik menjadi narasi yang bermakna, terukur, dan relevan bagi masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor IV Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik UNDIP, Wijayanto, S.IP., M.Si., Ph.D., menekankan pentingnya kesiapan civitas academica dalam menghadapi dinamika komunikasi digital yang kian cepat dan interaktif. “Komunikasi publik kini memiliki peran strategis di era revolusi digital yang ditandai dengan interaksi dua arah yang cepat dan dinamis, di mana setiap konten yang dipublikasikan berpotensi menjangkau audiens luas bahkan menjadi viral, sehingga perlu dirancang dengan matang dan disampaikan secara tepat,” ucapnya.
Ia menambahkan, kekuatan institusi tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik dan inovasi, tetapi juga oleh kemampuan mengomunikasikan capaian tersebut secara efektif kepada publik. “Indikator reputasi perguruan tinggi saat ini turut dipengaruhi oleh eksposur media, persepsi publik, serta kualitas narasi di berbagai platform digital. Karena itu, pelatihan ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas SDM dalam menghasilkan dan mengelola konten yang tidak hanya menarik, tetapi juga kredibel dan berdampak,” ungkap Wijayanto, Ph.D.

Materi pelatihan disampaikan oleh Muhammad Nur Rohman, praktisi jurnalistik dan produksi video, yang membahas perencanaan konten serta teknik penyuntingan video agar lebih menarik dan informatif. “Video yang kuat selalu berangkat dari tujuan komunikasi yang jelas: siapa audiensnya, pesan apa yang ingin disampaikan, sudut pandang apa yang paling relevan, serta bagaimana konten tersebut akan hidup di platform digital,” paparnya.
Ia menekankan pentingnya penyusunan konsep berbasis storytelling, penguatan unsur human interest, serta pemanfaatan sudut pandang di balik layar (behind the scenes) agar pesan terasa lebih hidup di platform digital dan dekat dengan audiens. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan keterlibatan publik tanpa menghilangkan karakter resmi institusi.
Dalam pembahasan penyuntingan video, Rachman menerangkan bahwa editing bukan sekadar menyusun potongan gambar, melainkan merangkai informasi agar mudah dipahami, enak diikuti, dan tetap menjaga akurasi pesan. Pemilihan gambar, ritme, teks, audio, durasi, serta alur cerita menjadi bagian penting agar konten institusi tidak hanya terlihat menarik, tetapi juga memiliki kekuatan informatif.
Pada sesi berikutnya menghadirkan Sidiq Ariyadi, S.Sn. dari Direktorat Jejaring Media, Komunitas dan Komunikasi Publik UNDIP yang memaparkan standar video media sosial official UNDIP. Materi ini mencakup pentingnya safe zone dalam komposisi video, konsistensi identitas visual, penggunaan logo, warna, tipografi, variasi shot, hingga penamaan file yang rapi untuk mendukung efisiensi produksi dan pengelolaan aset digital.
Sidiq menjelaskan konten video institusi perlu memiliki standar visual yang mudah dikenali publik. Konsistensi tampilan akan membantu memperkuat citra UNDIP di berbagai kanal media sosial. Selain itu, variasi pengambilan gambar seperti wide shot, medium shot, close up, dan medium long shot perlu digunakan secara tepat agar video mampu menjawab unsur informasi utama secara visual.
Peserta juga memperoleh penguatan mengenai konsep “one person, multi output”, sebuah pendekatan yang relevan bagi pengelola komunikasi publik di unit kerja. Dalam praktik lapangan, satu orang sering kali harus mengambil gambar, menulis keterangan, menyunting video, sekaligus menyiapkan distribusi konten. Karena itu, kemampuan membaca nilai kegiatan, menentukan format konten, memahami perilaku audiens, dan memilih kanal publikasi menjadi keterampilan yang semakin penting.
Pelatihan dilengkapi dengan sesi praktik, di mana peserta secara langsung melakukan pengambilan gambar berdasarkan shot list dan mengedit video menggunakan perangkat sederhana seperti smartphone. Pendekatan ini memberikan pengalaman aplikatif sehingga dapat langsung diterapkan di unit kerja masing-masing.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen UNDIP untuk meningkatkan kemampuan koordinator komunikasi publik agar menjadi garda terdepan dalam menghadirkan konten digital yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga kuat secara substansi, sehingga mampu memperkuat citra universitas sebagai institusi yang adaptif, inovatif, dan berdampak bagi masyarakat luas. (Komunikasi Publik/UNDIP/DHW)

